Sejarah Terbentuknya Gunung Gede Pangrango

Sejarah Terbentuknya Gunung Gede Pangrango – Gunung Gede Pangrango ialah dua gunung di Jawa Barat dengan bermacam kekayaan yang terdapat didalamnya. Kekayaan alam hayati baik flora dan fauna, sejarah, serta bermacam aktifitas yang sering dilaksanakan di kawasan ini.

Selain menikmati keindahan dan kekayaan alamnya, mengetahui sejarah Gunung Gede Pangrango merupakan satu hal menarik untuk diketahui. Dengan mendalami cikal bakalnya diharapkan kita akan dapat lebih menghargai betapa berharganya nilai-nilai historis yang terkandung di dalamnya.

Bila selama ini kita mengira bahwa Gede Pangrango cuma identik dengan pendakian saja, maka sungguh keliru. Untuk itu, mari kita mencari tahu dengan lebih dalam apa saja hal-hal yang terdapat di kawasan gunung Gede Pangrango ini.

sejarah terbentuknya gunung gede pangrango

Sejarah Gunung Gede

Kawasan Gunung Gede dan Gunung Pangrango sudah dikenal lama dalam dongeng dan legenda tanah Sunda.

Diantaranya, naskah perjalanan Bujangga Manik dari sekitar abad ke-13 telah menyebut-nyebut lokasi bernama Puncak dan Bukit Ageung (yaitu Gunung Gede) yang disebutnya sebagai “..hulu wano na Pakuan” (Kawasan yang tertinggi di Pakuan).

Perjalanan Bujangga Manik merupakan salah satu naskah kuno berbahasa Sunda yang memuat kisah perjalanan seorang tokoh bernama Bujangga Manik mengelilingi Tanah Jawa dan Bali.

Naskah ini amat berharga sebab melukiskan geografi dan topografi Pulau Jawa ketika naskah ditulis. Lebih dari 450 nama lokasi, gunung, dan sungai dibahas di dalamnya.

Sebagian besar dari nama-nama tempat itu masih digunakan atau dikenali sampai kini, diantaranya yakni Bukit Ageung atau yang sekarang kita kenal sebagai Gunung Gede.

Berdasarkan isi naskah itu, masyarakat Kerajaan Sunda di masa itu menyebut Gunung Gede sebagai Bukit Ageung. Bukan sekadar gunung, Bukit Ageung ialah kabuyutan alias lokasi sakral bagi Kerajaan Sunda.

Pada catatan petualangannya Bujangga Manik menulis dalam bahasa Sunda:

“Panjang tanjakan ditedak, ku ngaing dipeding-peding. Sadatang aing ka Puncak, diuk di na mungkal datar, teher ngahihidan awak. Teher sia nenjo gunung, itu ta na Bukit Ageung, hulu wano na Pakuan.”

“Sadatang ka Bukit Ageung, eta hulu Cihaliwung, kabuyutan ti Pakuan, sanghiang Talaga Warna.”

Kutipan puisi itu memberikan pertanda kepada kita bahwa di masa lampau, ketika negara yang beribukotakan Pakuan masih ada, Gunung Gede dengan Telaga Warna telah merupakan kabuyutan atau lokasi suci.

Sebagaimana di Jawa belahan tengah dan timur, gunung memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual orang Sunda di masa lalu. Oleh karena itu banyak daerah suci keagamaan di Tatar Sunda berdiri di gunung.

Sejarah Letusan Gunung Gede

Letusan Gunung Gede pertama kali terjadi pada tahun 1747. Letusan pertama ini amat hebat menyebabkan 2 aliran lava bergerak dan terlihat dari kawah lanang. Letusan ini memiliki akibat yang amat besar.

Terjadi kembali, letusan-letusan kecil Gunung Gede pada tahun 1761, 1780, dan 1832. Kemudian sesudah 100 tahun lebih gunung ini tertidur karena letusan pertama. Terjadilah letusan dahsyat ke-2 pada tahun 1840 tepatnya pada tanggal 12 November jam 3 dini hari. Goncangan yang benar-benar hebat sampai membangunkan warga yang sedang tertidur pulas.

Sesudah itu, kembali lagi letusan-letusan kecil di Gunung Gede kurang lebih terjadi 24 kali. Kemudian letusan terakhir terjadi pada tahun 1957, masih berkategorikan letusan kecil dan hingga saat ini Gunung Gede masih tertidur.
Namun wajib tetap berhati-hati, sebab sampai dengan saat ini gunung Gede masih berstatus sebagai gunung api yang aktif.

Cerita Legenda dan Mitos Gunung Gede Pangrango

Ada satu lokasi yang kultuskan oleh penduduk setempat di tempat Gunung Gede, dikenal dengan sebutan Alun-Alun Suryakencana. Dataran luas yang ada di ketinggian 2.750 mdpl mempunyai kisah dimana Pangeran Suryakencana megnasingkan diri di Gunung Gede bersama keluarganya.

Lokasi tersebut juga diyakini menjadi saksi bisu perjuangan Prabu Siliwangi saat menghadapi kerajaan Islam. Alun-Alun Suryakencana menjadi lokasi persembunyian Prabu Siliwangi saat itu.

Sekitar gunung Gede banyak terdapat petilasan peninggalan bersejarah yang dianggap sakral oleh beberapa peziarah, seperti petilasan Pangeran Suryakencana, putri jin dan Prabu Siliwangi.
Empat kawah Gunung Gede yang terdiri dari, Kawah Ratu, Kawah Lanang, dan Kawah Wadon, dijaga oleh Embah Kalijaga.

Embah Serah adalah penjaga Lawang Seketeng (pintu jaga) yang terdiri atas dua buah batu besar. Pintu jaga tersebut berada di Batu Kukus, sebelum lokasi air terjun panas yang menuju kearah puncak.

Sejarah Wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP)

Gunung Gede dan gunung Pangrango termasuk dalam kawasan yang dikelola oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP). Adapun terbentuknya kawasan TNGGP dimulai sejak masa Pemerintahan kolonial Belanda.

Pada masa penjajahan Belanda wilayah yang subur ini kemudian tumbuh menjadi zona pertanian, terutama perkebunan. Kawasan Gede Pangrango juga diketahui sebagai salah satu daerah favorit dan tertua, bagi penelitian-penelitian perihal alam di Indonesia.

Menurut catatan modern, orang pertama yang menginjakkan kaki di puncak Gede adalah Reinwardt, pendiri dan direktur pertama Kebun Raya Bogor, yang mendaki G. Gede pada April 1819.

Pada tahun 1889, wilayah hutan pegunungan seluas 240 hektar di atas Kebun Raya Cibodas hingga ke kawasan Air Panas dibuat Cagar Alam oleh pemerintah Hindia Belanda. Kemudian pada 1926, cagar alam ini diperluas sampai mencakup puncak-puncak gunung Gede dan Pangrango, dengan luas total 1.200 hektar.

Bersama dengan meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya lingkungan hidup, pada tahun 1979 Pemerintah Indonesia melalui keputusan Menteri Pertanian menunjuk wilayah hutan Gunung Gede Pangrango seluas 14.000 hektar, yang melingkup kedua puncak gunung beserta tutupan hutan di lereng-lerengnya, sebagai wilayah Suaka Alam/Cagar Alam.

Kemudian pada 6 Maret 1980 cagar alam ini disatukan dengan beberapa suaka alam yang berdekatan dan ditingkatkan statusnya menjadi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Adalah satu dari lima taman nasional yang pertama di Indonesia, dengan luas keseluruhan 15.196 hektar.

Pada tahun 2003, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 174/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003 tentang Penunjukan dan Perubahan Fungsi Kawasan Cagar Alam, Taman Wisata Alam, Hutan Produksi Tetap dan Hutan Produksi terbatas pada Kelompok Hutan Gunung Gede Pangrango, wilayah TN Gunung Gede Pangrango diperluas dengan area wilayah hutan yang berdekatan, yang semula di bawah pengelolaan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat menjadi ± 21.975 hektar.

Sesudah melewati progres yang panjang dan pengevaluasian ulang tata batas wilayah, pada 2009 dilakukan serah terima pengelolaan kawasan hutan dari Perum Perhutani III Jawa Barat dan Banten pada Balai Besar TNGGP, dengan total zona yang dialihkan pengelolaannya seluas 7.655,03 hektar, sehingga total luasan TNGGP lalu menjadi 22.851,03 hektar.

Kemudian via Surat Keputusan Menhut RI No SK.3683/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 08 Mei 2014, kawasan hutan TNGGP diperluas, ditetapkan dan dikukuhkan menjadi seluas 24.270,80 hektar.

Lokasi alamat kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango beralamat di Jl. Kebun Raya Cibodas, Cimacan, Kec. Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat 43253. Adapun info dan publikasi terkait operasionalnya bisa diakses via halaman laman resminya di https://gedepangrango.org

Letak dan Keadaan Fisik Wilayah TNGGP

Secara administratif, kawasan TNGGP berada di kawasan 3 kabupaten yakni Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi), Provinsi Jawa Barat.

Topografi dan Vulkanologi

Sebagaimana namanya, Taman Nasional ini mempunyai dua puncak kembar, yakni puncak Gede (2.958 m dpl) dan puncak Pangrango (3.019 m dpl). Kedua puncak itu dihubungkan oleh gigir gunung serupa sadel pada ketinggian lk 2.400 m dpl, yang diketahui sebagai daerah Kandang Badak.

Gunung Pangrango yang lebih tinggi, memiliki kerucut puncak yang relatif mulus, tipikal gunung yang masih relatif muda usianya. Gunung Gede lebih rendah, namun lebih aktif, dengan empat kawah yang masih aktif yaitu Kawah Ratu, Kawah Wadon, Kawah Lanang, dan Kawah Baru.

Di antara gigir Gunung Gede terdapat lembah dataran tinggi yang bernama Alun-alun Suryakancana (2.750 mdpl), yang penuh tertutupi oleh rumpun edelweis jawa yang indah.

Iklim

Ada dua iklim yakni musim kemarau dari bulan Juni hingga Oktober dan musim penghujan dari bulan Nopember ke April.

Selama bulan Januari sampai Februari, hujan turun disertai angin yang kuat dan terjadi cukup sering, sehingga membahayakan untuk pendakian. Hujan juga turun ketika musim kemarau, menyebabkan kawasan TNGP memiliki curah hujan rata-rata pertahun 4.000 mm. Rata-rata temperatur di Cibodas 23 °C.

Objek Wisata Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Ada cukup banyak objek wisata di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, berikut diantaranya yang paling populer:

Gunung Pangrango, panorama yang indah disertai medan yang menantang, menjadikan puncak Gunung Pangrango dengan ketinggian 3.091 mdpl ini sebagai pilihan pendakian selain ke puncak Gunung Gede

Gunung Gede, puncak Gunung Gede memiliki ketinggian 2.958 mdpl dengan pemandangan yang menakjubkan ke semua penjuru.

Kawah, di areal puncak Gunung Gede akan tercium bau belerang yang berasal dari empat kawah semi aktif yaitu Kawah Ratu, Kawah Lanang, Kawah Wadon dan Kawah Baru.

Telaga Warna, ialah objek wisata pendukung di sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Anda dapat merasakan estetika telaga disekitar hamparan perkebunan teh di Puncak Pas

Curug Cibeureum, terdapat tiga curug atau air terjun di lokasi ini yaitu air terjun Cindendeng, air terjun Cikundul dan air terjun Cibeureum. Dinding air terjun ini banyak ditumbuhi oleh lumut berwarna merah (Spagnum Gedeanum) yang menyebabkan warna air erlihat kemerah-merahan.

Alun-Alun Suryakencana, adalah dataran yang berupa padang rumput pegunungan yang berada di puncak Gunung Gede dengan luas sekitar 50 ha, sering kali digunakan oleh para pendaki untuk berkemah. Areal ini didominasi oleh tumbuhan Edelweiss, Cantigi, dan Gandapura.

Air Panas, bersumber dari kawah Gunung Gede dengan temperatur hingga 750 derajat celcius. Di lokasi itu tumbuh sejenis alga yang bertahan hidup dan beradaptasi dengan air panas dengan kandungan belerang yagn tinggi.

Telaga Biru, telaga ini mempunyai perubahan warna yang dramatis, kadang nampak berwarna hijau kecoklatan, kadang berwarna biru tergantung siklus pertumbuhan alga yang hidup di areal telaga.

Situ Gunung, titik menarik di Situ Gunung ini yakni Danau Situ Gunung dan Jembatang Gantung yang dikenal sebagai jembatan gantung terpanjang se-Asia Tenggara.

Fakta Menarik Gunung Gede Pangrango

Bicara seputar Gunung Gede Pangrango, ada beberapa fakta unik perihal 2 gunung ini:

  1. Gunung Gede Pangrango masuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980.
  2. Gunung Gede Pangrango beserta taman nasionalnya telah dijadikan Cagar Biosfir oleh UNESCO pada tahun 1977.
  3. Gunung Gede memiliki titik terbaik untuk menikmati edelweiss, yaitu di Alun-Alun Surya Kencana.
  4. Gunung Pangrango juga memiliki satu tempat yang istimewa, yaitu Lembah Mandalawangi. Di sini, dahulu tokoh terkenal Indonesia, Soe Hok Gie kerap kali menghabiskan waktu.
  5. Meski sering dianggap menyatu, Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebetulnya terpisah dan memiliki ketinggian yang berbeda.
  6. Gunung Pangrango belum pernah meletus, oleh karena itu gunung ini memiliki puncak berbentuk kerucut yang relatif mulus.
  7. Di kawasan yang masuk area TNGGP ini hidup beraneka fauna yang sudah amat langka, di antaranya Owa Jawa, Lutung Surili, Anjing Ajag, Macan Tutul, Biul Slentek Melogale orientalis, sejenis celurut gunung Crocidura orientalis, kelelawar Glischropus javanus dan Otomops formosus, sejenis bajing terbang Hylopetes bartelsi, dua jenis tikus Kadarsanomys sodyi dan Pithecheir Melanurus.

Rute dan Jalur Pendakian

Untuk menempuh lokasi Taman Nasional Gede Pangrango dapat ditempuh melewati rute Jakarta-Bogor-Cibodas dengan waktu sekitar 2,5 jam (± 100 km menerapkan kendaraan beroda empat, atau Bandung-Cipanas-Cibodas dengan waktu 2 jam (± 89 km), dan Bogor-Salabintana dengan waktu 2 jam (52 km).

Jalur Pendakian Gunung Gede

Pendakian melalui trek Cibodas, Cianjur
Jalur Cibodas merupakan jalur terfavorit yang biasa dilalui oleh para pendaki. Cibodas terletak di wilayah Kabupaten Cianjur.

Pendakian melalui trek Putri (Gunung Putri), Cianjur
Jalur ini ialah salah satu jalur menuju Puncak Gede yang cukup menantang, karena dikenal agak terjal. Tetapi, trek agak terjal itu akan terbayarkan dengan panorama cantik yang didapat ketika tiba di salah satu pos di alun-alun Suryakencana.

Pendakian via jalur Selabintana, Sukabumi
Jalur Selabintana ialah trek terjauh dan terlama menuju puncak Gunung Gede. Namun, jalur ini adalah jalur yang paling menawan dan natural dibandingkan dengan dua trek lainnya.

Peta Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango

Untuk memudahkan para pendaki dalam melakukan perjalanan menuju puncak, pihak TNGGP via websitenya memberikan informasi tentang peta jalur pendakian.

Adapun peta dari ketiga jalur pendakian itu disajikan dalam bentuk peta interaktif dari Google Maps. Peta interaktif tersebut bisa diakses di sini.

Pada peta itu terdapat info terkait ketiga trek yang ada yakni jalur Cibodas, trek Gunung Putri dan jalur Selabintana. Masing-masing trek diberi keterangan warna yang berbeda, jalur Putri warna kuning, trek Cibodas berwarna hijau dan trek Selabintana warna merah.

Booking Pendakian Gunung Gede Pangrango

Booking pendakian gunung Gede dan Pangrango dapat dikerjakan secara online. Dengan adanya simaksi online ini, semoga para pendaki menjadi lebih leluasa saat melakukan registrasi dari manapun.

Tahapan booking dapat dilaksanakan via laman resmi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada url berikut http://booking.gedepangrango.org

Sesudah melengkapi semua syarat yang diperlukan, selanjutnya lakukan pembayaran lalu datang ke pos pengambilan simaksi.

Ketetapan dan Persyaratan Mendaki Gunung Gede Pangrango

Untuk mendapat simaksi, para calon pendaki diwajibkan mematuhi dan menyetujui tiap prasyarat dan ketetapan yang termuat pada halaman pendaftaran.

Ketentuan dan persyaratan tersebut bertujuan untuk meminimalisir terjadinya hal-hal yang tak diinginkan yang sifatnya merugikan baik bagi pihak pengelola maupun pihak pendaki.

Adapun persyaratan dan ketetapan tersebut mencakup kesiapan jasmaniah calon pendaki, perlengkapan yang memadai, memiliki cukup pengalaman atau mendaki bersama pendaki berpengalaman dan bersedia mentaati setiap peraturan yang ditentukan pihak pengelola (TNGGP).

Ketentuan dan peraturan selengkapnya dapat ditemukan pada halaman pendaftaran online di laman TNGGP.

Larangan Bagi Pendaki Gunung Gede

Setiap pendaki atau kelompok pendaki selama berada di wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), dilarang melaksanakan hal-hal sebagai berikut:

  1. Membawa binatang dan tumbuhan dari luar dan dari dalam wilayah TNGGP;
  2. Mengambil, memetik, memindahkan atau mencabut tumbuhan di dalam kawasan TNGGP;
  3. Membuat api unggun di dalam kawasan TNGGP;
  4. Mengganggu, memindahkan atau melaksanakan vandalisme pada fasilitas yang tersedia di dalam wilayah TNGGP;
  5. Mengganti identitas/ pendaki pada simaksi atau tak cocok dengan simaksi;
  6. Menggunakan SIMAKSI pendakian untuk aktivitas Diklat pencinta alam/aktivitas orientasi pencinta alam;
  7. Membawa obat-obatan terlarang, membawa minuman beralkohol;
  8. Membawa alat pembersih badan yang susah terurai antara lain: tisu basah, odol, sabun, shampoo dan lain-lain;
  9. Membawa senjata antara lain: golok, pisau (belati, dapur dll) serta alat pemotong lainnya;
  10. Membawa alat elektronik seperti radio komunikasi (Handy Talky), Walkman, gamewatch, wireless speaker dan lain-lain yang dapat mengganggu ketenangan kehidupan flora fauna;
  11. Melakukan tindakan asusila.

Demikianlah informasi terkait Sejarah Terbentuknya Gunung Gede Pangrango, semoga bisa bermanfaat buat kalian yang berencana melakukan liburan ke lokasi tersebut.

Jika membutuhkan update lain yang berkaitan dengan wisata TNGGP khususnya pendakian gunung Gede Pangrango dan belum tercantum dalam tulisan ini, silahkan bertanya kepada kami via halaman kontak atau melalui whatsapp di bawah.